NusaSuara — Kebakaran besar apartemen Hongkong yang melanda tujuh blok Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong, menewaskan setidaknya 128 jiwa dan meninggalkan segudang misteri. Meski penyelidikan masih berlangsung, berbagai spekulasi menyebut kebakaran terburuk di Hong Kong dalam beberapa dekade ini di picu puntung rokok yang menyala.
Api Berkobar di Tengah Renovasi
Peristiwa tragis ini terjadi pada Rabu (26/11) sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Saat itu, kompleks apartemen sedang di renovasi secara besar-besaran dan seluruh bangunan tertutup jaring hijau serta perancah bambu.
Karena alasan itulah, api di duga menjalar sangat cepat. Polisi menemukan fakta bahwa jaring konstruksi yang seharusnya mencegah material jatuh justru mempercepat rambatan api, sebagaimana terlihat dari berbagai video amatir warga.
Namun demikian, asal api belum di pastikan. Warganet pun berspekulasi bahwa api berasal dari puntung rokok pekerja konstruksi.
Video Pekerja Merokok Menjadi Sorotan
Kecurigaan publik menguat setelah beredar video berdurasi 18 detik, salah satunya diunggah Russia Today (RT). Video itu menunjukkan dua pekerja merokok tepat di samping perancah dan jaring konstruksi, hanya beberapa saat sebelum kebakaran apartemen Hongkong.
Walaupun begitu, otoritas Hong Kong belum mengumumkan penyebab resmi kebakaran yang menyebabkan korban massal tersebut.
Keluhan Warga Sudah Lama Terjadi
Menurut laporan South China Morning Post (SCMP), keluhan terkait pekerja yang merokok sudah berlangsung selama berbulan-bulan.
Seorang pekerja ritel berusia 45 tahun, Kenny Tam, menyebut warga kerap memergoki tukang yang membangun apartemen Hongkong merokok saat bekerja. “Keluhan seperti ini sudah setengah tahun lebih,” ujarnya.
Hal serupa di sampaikan Kwong Pui-lun, mantan ketua Perusahaan Pemilik Wang Fuk Court. Ia berulang kali melihat puntung rokok berserakan di area proyek renovasi.
Baca Juga: Tenaga Nuklir Jepang dan Persetujuan Gubernur Niigata
Bambu, Jaring, dan Angin: Kombinasi Berbahaya
Juru bicara Divisi Kebakaran apartemen Hongkong Institution of Engineers, Gary Au Gar-hoe, menjelaskan bahwa perancah bambu tetap bisa terbakar, meskipun jaring telah di lapisi bahan penghambat api.
Selain itu, angin kencang pada hari kejadian ikut memperburuk situasi. Puing-puing terbakar tertiup dan menimpa blok lain di sekitar lokasi sehingga kobaran api kian meluas. Akibatnya, tingkat kebakaran apartemen Hongkong meningkat drastis, dari level 1 pada pukul 15.00 menjadi level 5 hanya dalam tiga jam, yakni pada 18.22.
Menurut Au, hal tersebut menunjukkan ada masalah serius pada beberapa aspek:
-
pemilihan material konstruksi
-
manajemen keselamatan proyek
-
minimnya kesadaran pekerja terhadap risiko kebakaran
“Begitu bahan-bahan mudah terbakar ikut tersulut, seluruh api akan membesar,” tegas Au.
Penegakan Hukum Di mulai
Hingga kini, 11 orang telah di tahan dan di tetapkan sebagai tersangka atas dugaan pembunuhan terkait tragedi fatal tersebut. Pemerintah Hong Kong berjanji akan mengusut kasus ini hingga tuntas.





