Jeffrey Epstein: Ungkap Kontroversial soal Kekerasan di Yacht

oleh
Jeffrey Epstein: Ungkap Kontroversial soal Kekerasan di Yacht

NusaSuara — Dokumen resmi terkait kasus Jeffrey Epstein kembali memicu perhatian publik setelah memuat kesaksian seorang individu yang mengklaim menyaksikan tindakan kekerasan ekstrem di atas sebuah yacht, termasuk tuduhan mutilasi bayi dan praktik ritual.

Kesaksian tersebut tercantum dalam berkas pemeriksaan yang di rilis oleh Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (DOJ). Namun, dokumen itu juga menegaskan bahwa seluruh pernyataan berasal dari pengakuan sepihak dan belum di verifikasi melalui proses hukum.

Klaim Kekerasan Ekstrem di Atas Kapal Pesiar

Dalam dokumen tersebut, individu yang mengaku sebagai korban menyatakan dirinya menyaksikan tindakan kekerasan brutal terhadap bayi-bayi di atas kapal pesiar.

Ia menggambarkan adanya dugaan mutilasi, pengeluaran organ tubuh, hingga tindakan kanibalisme yang melibatkan organ bayi. Pernyataan ini tercatat apa adanya dalam dokumen pemeriksaan tanpa adanya pembuktian tambahan.

Korban juga mengklaim mengalami kekerasan seksual dan secara spesifik menyebut nama George Bush Sr. (George H. W. Bush) sebagai pelaku dalam salah satu pengakuannya.

Tuduhan Ritual dan Adegan Seksual

Selain kekerasan fisik, korban menyatakan dirinya menjadi bagian dari praktik yang ia sebut sebagai pengorbanan ritual. Ia mengaku kakinya di sayat menggunakan pedang jenis scimitar, meski tidak meninggalkan bekas luka permanen.

Dokumen tersebut juga mencatat kesaksian korban yang mengaku menyaksikan hubungan seksual antara pria Afrika-Amerika dan perempuan kulit putih berambut pirang di lokasi yang sama.

Kredibilitas Kesaksian Di pertanyakan

DOJ menekankan bahwa pengakuan ini belum di verifikasi dan tidak di sertai bukti fisik maupun saksi pendukung. Dalam dokumen yang sama, di sebutkan bahwa korban di antar ke gedung FBI oleh Michael Moore, pendiri situs True Pundit—media yang oleh berbagai sumber daring kerap di kaitkan dengan teori konspirasi dan narasi anti-FBI.

Kesaksian Lain: Tuduhan Terhadap Tokoh Publik AS

Dalam bagian terpisah, dokumen tersebut juga memuat pernyataan seorang pria lain yang mengaku mengalami kekerasan seksual oleh Jeffrey Epstein pada tahun 2000 di sebuah kapal pesiar besar.

Ia menuding mantan Presiden AS Bill Clinton sebagai pelaku dan menyebut Donald Trump serta Melania Trump berada dalam perjalanan kapal tersebut. Namun, ia mengakui berada di bawah pengaruh obat-obatan saat kejadian berlangsung.

Menurut pengakuannya, ingatan tersebut baru muncul kembali setelah menjalani terapi pada 2016. Ia tidak menyerahkan bukti pendukung atau saksi yang dapat di verifikasi.

Baca Juga: Tembus 10.000 Kuota! Beasiswa Inggris untuk Indonesia Jadi Peluang Emas Transformasi SDM Nasional

Penilaian Awal Penyelidik

Berdasarkan evaluasi awal aparat, individu tersebut di nilai tidak stabil secara emosional. Oleh karena itu, penyelidik tidak merekomendasikan kelanjutan proses investigasi atas kesaksian tersebut.

Dokumen ini menegaskan kembali bahwa banyak klaim dalam berkas kasus Epstein bersifat belum terbukti dan harus di baca dalam konteks hukum yang ketat serta prinsip praduga tak bersalah.