Nama Sanae Takaichi, politisi konservatif dari Partai Demokrat Liberal (LDP), mencuri perhatian dunia setelah ia secara resmi terpilih sebagai Perdana Menteri perempuan pertama dalam sejarah Jepang. Penunjukannya sebagai Ketua LDP pada 4 Oktober 2025 mendahului terpilihnya Takaichi pada 21 Oktober 2025, dan peristiwa ini menandai tonggak sejarah baru di Negeri Sakura.
Media/Publik menyoroti sosoknya dengan tajam. Catatan karier politiknya yang panjang dan keberhasilannya memecahkan langit-langit kaca politik Jepang menyebabkan hal itu. Selain itu, pandangan ideologi konservatifnya juga seringkali memicu kontroversi.
Berikut adalah gambaran mengenai latar belakang pendidikan dan bagaimana riwayat akademis membentuk pendekatannya dalam politik, yang publik/pengamat kenal sebagai sosok pragmatis dan tegas.
Latar Belakang dan Pendidikan Tinggi
Sanae Takaichi lahir pada 7 Maret 1961, di Prefektur Nara, Jepang. Orang tuanya membesarkan ia di lingkungan keluarga kelas menengah; ayahnya bekerja di perusahaan otomotif, dan ibunya bertugas sebagai petugas polisi.
Dalam ranah akademis, riwayatnya memperlihatkan Takaichi fokus pada bidang yang relevan dengan ekonomi dan tata kelola pemerintahan. Ia meraih gelar di bidang Administrasi Bisnis dari Universitas Kobe. Universitas Kobe, yang merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Jepang, membekalinya dengan dasar-dasar pemahaman yang kuat tentang manajemen dan ekonomi—dua pilar penting dalam karier politiknya.
Setelah menamatkan pendidikan di Universitas Kobe, ia melanjutkan pelatihan kepemimpinan di Matsushita Institute of Government and Management. Orang-orang (atau Publik) mengenal institusi ini sebagai “pabrik” yang melahirkan banyak tokoh politik Jepang. Hal ini semakin mengasah visi dan kemampuannya (Takaichi) dalam tata kelola pemerintahan.
Pengalaman Internasional yang Membentuk Visi Politik
Pengalaman pendidikan Takaichi tidak terbatas di dalam negeri. Pada tahun 1987, ia memperoleh kesempatan penting sebagai congressional fellow di Amerika Serikat.
Di AS, Takaichi bekerja di kantor anggota Kongres Patricia Schroeder. Pengalaman langsung dalam sistem politik dan legislatif Amerika Serikat ini memberikan pemahaman mendalam tentang politik luar negeri dan keamanan. Media/Sumber melaporkan bahwa pengalaman ini turut membentuk pendekatan politiknya. Pendekatan ini saat ini dikenal publik/pengamat sebagai sosok pragmatis, disiplin, dengan fokus kuat pada visi ekonomi dan keamanan nasional Jepang.
Jalan Menuju Kursi Perdana Menteri
Pada tahun 1992, Takaichi memulai karier politiknya dengan mencalonkan diri sebagai independen dalam pemilu legislatif, meskipun ia gagal saat itu. Namun, ketekunannya membuahkan hasil, dan pada tahun 1993, ia berhasil masuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Ia kemudian bergabung dengan Partai Demokrat Liberal (LDP) pada tahun 1996 dan meniti karier di partai yang berideologi konservatif tersebut. Selama bertahun-tahun, Takaichi menduduki sejumlah posisi penting, termasuk menjabat sebagai Menteri Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi.
Baca Juga : Seoul Rebut Gelar Kota Pelajar Terbaik Dunia 2026, Jakarta Peringkat Berapa Dibanding Singapura?
Puncak kariernya tiba pada Oktober 2025, ketika ia dipercaya memimpin LDP, yang kemudian membawanya menjadi Perdana Menteri, sosok yang kini dijuluki oleh media internasional sebagai “Iron Lady Jepang” karena pandangan konservatif dan gaya kepemimpinan yang tegas, mengingatkannya pada mantan PM Inggris Margaret Thatcher.





