Kabar duka atas wafatnya aktor Gary Iskak dalam kecelakaan tunggal pada akhir pekan lalu tidak hanya menyisakan kesedihan bagi keluarga dan penggemar. Tetapi juga mengalihkan sorotan pada motor yang ia kendarai. Sang legenda, Yamaha RX-King. Komunitas dan publik menjuluki motor ini “Si Raja Jalanan” dan mengenalnya karena karakter mesinnya yang buas dan akselerasinya yang mematikan. Pesona ini terima oleh banyak pihak, termasuk mendiang aktor tersebut.
Musibah ini sekali lagi mengingatkan publik akan karakteristik unik RX-King. Yang menuntut keahlian dan kehati-hatian ekstra saat pengendara mengendalikannya—sebuah keseimbangan antara tenaga luar biasa dan risiko tinggi.
Mesin 2-Tak dan Sensasi “Jambakan Setan”
Kunci kekuatan Yamaha RX-King terletak pada jantungnya: mesin 2-tak berkapasitas 135 cc. Motor ini menghadirkan rasio power-to-weight yang sangat superior jika berbanding dengan motor 4-tak sekelasnya. Karena setiap putaran mesin 2-tak menghasilkan satu pembakaran, mesin menyalurkan tenaga ke roda secara lebih padat dan instan, terutama di putaran menengah ke atas.
Para penggemar menjuluki sensasi tarikan spontan ini sebagai “jambakan setan”. Ketika gas tarik, tenaga RX-King langsung meledak tanpa jeda, menciptakan akselerasi yang mampu mengungguli motor-motor dengan kapasitas mesin yang jauh lebih besar.
Para kolektor paling banyak mencari Model RX-King Master, yang Yamaha produksi pada awal 2000-an. Publik mengenal Model ini karena memiliki teknologi Yamaha Energy Induction System (YEIS) yang membuat pembakaran lebih efisien, namun tetap mempertahankan performa legendarisnya. Namun, di balik kehebatannya, kita juga mengetahui mesin 2-tak kurang ramah lingkungan dan menuntut perawatan lebih detail. Asap tipis dan suara knalpot yang garing adalah harga yang pengendara harus bayar untuk merasakan sensasi berkendara yang brutal ini.
Warisan Budaya dan Identitas Jalanan
RX-King pertama kali mengaspal di Indonesia pada tahun 1983 melalui seri RX-K. Sejak itu, motor ini mengalami evolusi hingga mencapai puncaknya. Julukan “Si Raja” dan “King Cobra” (untuk model awal dengan lampu persegi yang sangar) melekat erat, mencerminkan dominasinya di jalanan.
Motor ini bukan hanya alat transportasi; ia adalah simbol status dan identitas di berbagai lapisan masyarakat. Namun, performanya yang mudah berfungsi untuk melarikan diri dari kejaran menyebabkan publik menjulukinya sebagai “motor jambret”.
Kekuatan budaya RX-King juga tercermin dari komunitasnya yang sangat solid di seluruh Indonesia. Komunitas ini, yang merupakan tempat almarhum Gary Iskak meminjam motor tersebut, menjadi wadah untuk merawat sejarah motor ini. Para anggotanya tak segan-segan mengeluarkan biaya besar demi mempertahankan orisinalitas motor. Kisah tragis Gary Iskak—yang meminjam motor karena rindu akan sensasi berkendaranya—membuktikan betapa kuatnya ikatan emosional yang membuat para penggemar terhadap mesin legendaris ini.
Fenomena Kolektor dan Kenaikan Harga Eksponensial
Sejak Yamaha menghentikan produksi RX-King pada tahun 2009, nilai motor ini di pasar sekunder melambung tinggi. Motor yang tadinya identik dengan kecepatan dan ‘kenakalan’ remaja kini bertransformasi menjadi aset investasi.
Permintaan yang tinggi, terutama untuk unit-unit New Old Stock (NOS) atau unit yang memiliki dokumen lengkap dan suku cadang asli, membuat harganya meroket. Beberapa unit edisi khusus, bahkan yang masih terbungkus plastik pabrik, dilaporkan telah terjual dengan harga di atas Rp 100 juta. Fenomena ini didorong oleh nostalgia generasi 90-an dan kesadaran bahwa motor 2-tak dengan karakter sekuat RX-King tidak akan pernah diproduksi lagi karena terbentur regulasi emisi modern.
Baca Juga : BYD Racco Dijual di Indonesia? Mobil Listrik Mungil Itu Mungkin Hadir, Tapi Ada ‘PR’ Pasar
Oleh karena itu, motor yang digunakan Gary Iskak bukan sekadar motor pinjaman, melainkan sebuah artefak otomotif bernilai historis dan finansial yang signifikan.
Kepergian Gary Iskak menjadi pengingat pahit bagi komunitas motor tentang pentingnya menghormati kekuatan motor seperti RX-King. Di balik daya tarik “jambakan setan” yang memabukkan, tersimpan risiko yang menuntut konsentrasi penuh dan keahlian tinggi dari sang pengendara.





