NusaSuara — Wacana merger Grab-GoTo kembali menjadi sorotan publik setelah Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Roeslani, memberikan tanggapan pertamanya terkait isu tersebut. Meski demikian, Rosan belum membeberkan detail peran Danantara dalam proses yang melibatkan dua raksasa teknologi Asia Tenggara tersebut.
Rosan: Biarkan Proses Merger Grab-GoTo Berjalan Terlebih Dahulu
Saat di temui di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (26/11), Rosan mengatakan bahwa ia memilih menunggu proses yang tengah berlangsung antara Grab dan GoTo sebelum memberikan keterangan lebih jauh.
“Mereka sedang berjalan dulu ya, biarkan dulu itu berjalan lah,” ujar Rosan singkat, seperti di kutip DetikFinance.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Danantara—yang berada di bawah Kementerian BUMN—memiliki posisi strategis, namun belum akan membeberkan langkah konkrit dalam waktu dekat.
Keterlibatan Danantara Di singgung Mensesneg
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sempat mengungkapkan bahwa Danantara turut terlibat dalam proses konsolidasi dua perusahaan teknologi tersebut. Namun, seperti Rosan, Prasetyo juga belum menjelaskan secara rinci bentuk keterlibatannya.
Sebagai konteks, Telkom dan anak usahanya, Telkomsel, memiliki investasi mencapai Rp6,4 triliun di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Investasi ini membuat pemerintah memiliki kepentingan korporasi yang cukup besar terhadap arah dan masa depan perusahaan.
“Danantara juga ikut terlibat di situ karena ada proses korporasinya. Makanya minta tolong sabar dulu,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (7/11).
Rencana Akuisisi Grab terhadap GoTo Sudah Mencuat Sejak Lama
Wacana penggabungan Grab-GoTo bukan hal baru. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Grab berupaya mencapai kesepakatan akuisisi GoTo pada kuartal kedua tahun ini. Langkah ini di nilai sebagai strategi memperkuat dominasi Grab di pasar layanan transportasi, pesan-antar makanan, dan teknologi finansial di Asia Tenggara.
Namun, menurut tiga narasumber Reuters, rencana tersebut menghadapi tantangan serius berupa kendala regulasi dari pemerintah Indonesia.
Baca Juga: Sheikh Hasina: Vonis Mati Atas Kejahatan Kemanusiaan
Kendala Regulasi Hambat Potensi Merger Grab-GoTo
Pemerintah Indonesia di sebut telah menetapkan sejumlah persyaratan agar rencana merger dapat berjalan. Persyaratan tersebut di duga terkait:
-
perlindungan persaingan usaha,
-
keterlibatan investor lokal,
-
kepastian layanan untuk UMKM,
-
dan stabilitas ekosistem digital Indonesia.
Hambatan regulasi ini memicu ketidakpastian, mengingat merger dua perusahaan teknologi besar dapat mengubah peta persaingan transportasi daring dan layanan digital di kawasan.
Prospek Merger Grab-GoTo Masih Menunggu Kepastian
Hingga kini, baik Grab maupun GoTo belum memberikan pernyataan resmi mengenai progres terbaru. Dengan keterlibatan pemerintah, investor BUMN, serta proses negosiasi yang kompleks, masa depan merger ini di perkirakan masih membutuhkan waktu panjang sebelum mencapai keputusan final.





