NusaSuara — Sebuah kisah tragis datang dari Xinxiang, Provinsi Henan, China. Seorang pria yang hanya di sebut dengan nama samaran Li Jiang meninggal dunia setelah menjalani operasi bypass lambung, prosedur yang ia pilih demi menurunkan berat badan sebelum bertemu dengan calon mertua.
Selama bertahun-tahun, Li berjuang melawan obesitas. Pola makan yang sulit ia kendalikan membuat berat badannya mencapai 134 kilogram. Situasi ini membuatnya merasa tidak percaya diri, terutama setelah hubungannya dengan sang kekasih mulai menuju tahap yang lebih serius.
Menurut kakak laki-lakinya, Li dan kekasihnya telah berencana untuk memperkenalkan keluarga masing-masing. Pertemuan itu di yakini sebagai langkah awal menuju pernikahan. Li merasa bahwa tampil lebih sehat akan membuat kesan pertama lebih baik di hadapan orang tua calon istrinya.
“Segala sesuatunya berjalan baik. Ia ingin menurunkan berat badan sebelum bertemu orang tua kekasihnya. Dia melakukannya sebagai persiapan pernikahan,” ujar sang kakak, di kutip dari SCMP.
Upaya Menurunkan Berat Badan dan Pilihan Operasi
Selama beberapa bulan, Li telah mencoba berbagai cara untuk mengurangi berat tubuhnya, termasuk berolahraga dan menjalani diet ketat. Namun, hasilnya tidak signifikan. Kondisi tersebut membuatnya mempertimbangkan operasi bariatrik, yakni tindakan medis yang di peruntukkan bagi pasien yang kesulitan menurunkan berat badan secara alami.
Salah satu prosedur yang paling umum adalah operasi bypass lambung, di mana kapasitas lambung di kurangi sehingga asupan makanan menjadi jauh lebih sedikit. Cara ini di anggap efektif membantu pasien mengurangi berat badan secara drastis, tetapi tetap memiliki risiko kesehatan yang tidak bisa di abaikan.
Bagi Li, keputusan tersebut bukan sekadar upaya fisik, tetapi juga langkah emosional dan sosial. Ia ingin menunjukkan komitmen serta keseriusannya kepada keluarga kekasihnya dengan tampil lebih sehat dan bugar.
Proses Operasi dan Kondisi Setelah Prosedur
Pada 30 September 2025, Li menjalani perawatan di Ninth People’s Hospital, Zhengzhou, untuk mempersiapkan prosedur bedah yang telah di jadwalkan. Operasi bypass lambung di laksanakan pada 2 Oktober 2025, dan menurut laporan pihak rumah sakit, seluruh proses berjalan lancar tanpa komplikasi awal.
Setelah operasi, Li di pindahkan ke ICU untuk pemantauan ketat, sebagaimana protokol standar bagi pasien yang menjalani operasi besar. Keesokan harinya, kondisi Li terlihat stabil, sehingga dokter memutuskan memindahkannya ke bangsal umum.
Namun, situasi berubah cepat pada 4 Oktober 2025. Pada pagi hari, Li ditemukan dalam kondisi tidak bernapas. Petugas medis segera memberikan tindakan darurat dan memindahkannya kembali ke ICU. Meski seluruh prosedur penyelamatan telah di lakukan, Li tidak menunjukkan perbaikan signifikan.
Pada 5 Oktober 2025, ia di nyatakan meninggal dunia akibat gagal napas. Keluarga pun terpukul oleh peristiwa tak terduga ini, terutama mengingat tujuan Li menjalani operasi tersebut adalah demi masa depan yang lebih baik.
Respons Publik: Dukungan, Simpati, dan Peringatan
Kisah Li segera menyebar di media sosial China dan memicu ribuan komentar. Banyak netizen menyampaikan belasungkawa dan menyoroti betapa besar tekanan sosial yang di alami sebagian orang terkait penampilan fisik.
Sebagian warganet menilai bahwa operasi bariatrik bukanlah solusi instan dan memiliki risiko tinggi. “Selalu ada risiko kematian pada operasi semacam ini. Dokter bisa melakukan yang terbaik, tetapi tak ada jaminan,” tulis seorang netizen.
Komentar lain memberi peringatan lebih keras: “Operasi lambung tetap operasi besar. Jika bisa menurunkan berat badan secara alami, lakukan itu. Risiko komplikasinya tidak kecil.”
Selain itu, beberapa warganet menyoroti tekanan sosial yang membuat seseorang merasa harus mengubah diri secara drastis demi penerimaan keluarga pasangan.
Operasi Bariatrik dan Risiko yang Perlu Di waspadai
Para ahli kesehatan menekankan bahwa meski operasi bypass lambung efektif menurunkan berat badan, prosedur ini tetap mengandung risiko seperti perdarahan internal, infeksi, penyempitan saluran pencernaan, hingga kegagalan fungsi organ.
Biasanya, dokter hanya menyarankan operasi ini kepada pasien dengan indeks massa tubuh tinggi atau yang menderita penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, atau apnea tidur. Bahkan setelah operasi, pasien harus menjalani pemantauan jangka panjang, perubahan gaya hidup, serta kontrol gizi yang ketat.
Kasus Li semakin menegaskan pentingnya memahami risiko serta berkonsultasi secara mendalam dengan ahli medis sebelum mengambil keputusan besar terkait kesehatan.
Informasi Kasus Li Jiang
Tragedi yang menimpa Li menjadi pengingat bahwa tekanan sosial—terutama mengenai penampilan—dapat mendorong seseorang mengambil langkah ekstrem. Banyak orang yang akhirnya mempertimbangkan operasi bariatrik bukan semata-mata karena alasan kesehatan, tetapi karena ingin memenuhi ekspektasi sosial atau keluarga.
Selain itu, kasus ini menyoroti perlunya edukasi publik mengenai risiko medis dan pentingnya melakukan penilaian kesehatan secara menyeluruh sebelum menjalankan operasi besar.
