Rupiah Tak Berdaya di Rp16.725: Dolar AS Mendominasi Pasar!

oleh
Pasar

Sentimen pasar kembali menekan nilai tukar rupiah, sehingga menutupnya dalam kondisi terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (21/11/2025). Berdasarkan data dari Refinitiv, mata uang Garuda berada di posisi Rp16.725 per dolar AS, mencatat pelemahan sebesar 0,21%.

Pelemahan rupiah sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan. Di mana rupiah langsung berada di zona merah dengan koreksi 0,18% ke level Rp16.720 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah terus berlanjut sepanjang hari, bahkan sempat menyentuh level terendah harian di Rp16.750 per dolar AS. Sebelum akhirnya stabil di Rp16.725 pada penutupan.

Kondisi pasar ini mencerminkan dominasi Greenback di pasar valuta asing global.

Sentimen Global Menjadi Pemicu Utama

Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan mata uang emerging market seperti rupiah. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia. Terpantau menguat tipis 0,02% ke level 100,249 pada sore hari WIB, melanjutkan kenaikan yang telah terjadi sebelumnya.

Kekhawatiran terkait kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) mendominasi sentimen pasar global. (Ini lebih lugas dan menempatkan “kekhawatiran” sebagai pelaku utama). Ekspektasi pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga acuan pada Desember mendatang semakin meredup.

Mayoritas pejabat The Fed dalam Risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC Minutes) yang baru bertekad untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Pandangan hawkish ini segera meningkatkan permintaan terhadap aset aman dolar AS, sehingga menekan laju rupiah.

Selain itu, ketidakpastian data ekonomi AS akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) juga memperkeruh suasana. Minimnya ketersediaan data kunci, termasuk laporan nonfarm payrolls (NFP) Oktober, membuat investor semakin berspekulasi bahwa The Fed akan menunda keputusan penting apa pun hingga kondisi ekonomi menjadi lebih jelas.

Faktor Domestik Memberi Sedikit Harapan

Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk kuartal III-2025 yang mencatatkan defisit sebesar US$6,4 miliar. Meskipun masih defisit, angka ini menunjukkan sedikit perbaikan dibandingkan defisit pada kuartal sebelumnya yang mencapai US$6,7 miliar.

Baca Juga : Umrah Haji: Tantangan Umrah Mandiri di Indonesia

Perbaikan kecil pada NPI ini belum cukup kuat untuk menahan tekanan kuat dari sentimen global yang mayoritas berpihak pada penguatan dolar AS. Dengan DXY yang terus menguat, mata uang kawasan Asia, termasuk rupiah, diperkirakan akan tetap menghadapi tantangan dalam jangka pendek.

No More Posts Available.

No more pages to load.