Rudal Balistik dan Tindakan Provokatif Korea Utara

oleh
Rudal Balistik dan Tindakan Provokatif Korea Utara

NusaSuara Pada Minggu pagi (4/1), Korea Utara meluncurkan beberapa rudal balistik di lepas pantai timurnya. Kejadian ini merupakan tindakan yang meningkatkan ketegangan di kawasan. Menurut pernyataan militer Korea Selatan, peluncuran rudal pertama pada tahun ini terjadi hanya beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, berangkat menuju China untuk menghadiri pertemuan puncak.

Ketegangan Meningkat: Rudal dan Operasi Militer

Peluncuran rudal tersebut terjadi setelah operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) di Venezuela, sekutu Korea Selatan yang beraliran sosialis. Pada operasi itu, AS dilaporkan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Ini menjadi salah satu kekhawatiran utama Korea Utara. Negara tersebut selama ini menuduh AS berupaya menggulingkan rezim mereka. Skenario ini sangat di khawatirkan oleh pemerintah Pyongyang.

Mereka juga menambahkan bahwa militer Korea Selatan telah meningkatkan kesiapan dan pengawasan. Ini dilakukan untuk menghadapi kemungkinan peluncuran tambahan.

Selain itu, Kementerian Pertahanan Jepang juga mengonfirmasi bahwa mereka telah mendeteksi kemungkinan peluncuran rudal. Peluncuran ini di perkirakan mendarat di lokasi yang tidak di tentukan sekitar pukul 8:08 pagi waktu setempat (2308 GMT Sabtu).

Peluncuran Pertama Setelah November 2025

Ini menjadi peluncuran rudal balistik pertama Korea Utara sejak November 2025. Pada waktu itu, mereka melakukan uji coba rudal setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui rencana Korea Selatan untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir. Beberapa analis percaya bahwa operasi militer AS terhadap Venezuela bisa menjadi salah satu faktor yang memicu keputusan Pyongyang untuk meluncurkan rudal.

Korea Utara telah lama berpendapat bahwa mereka memerlukan program nuklir dan rudal. Langkah ini untuk pencegahan terhadap potensi upaya perubahan rezim yang di lakukan oleh AS. Meskipun AS berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak memiliki rencana seperti itu, ketakutan akan serangan presisi dari AS tetap menjadi ancaman yang di hadapi oleh Korea Utara.

Menurut Hong Min, seorang analis di Institut Unifikasi Nasional Korea, “Korea Utara mungkin khawatir bahwa jika AS memutuskan untuk bertindak, mereka bisa melancarkan serangan yang sangat tepat sasaran, yang bisa mengancam kelangsungan rezim mereka.” Ia juga menambahkan, “Pesan yang tersirat dari peluncuran rudal ini adalah bahwa menyerang Korea Utara tidak akan semudah menyerang Venezuela.”

Diplomasi Menjelang Pertemuan dengan China

Peluncuran rudal ini terjadi hanya beberapa jam sebelum Presiden Lee Jae Myung berangkat ke Beijing untuk melakukan pertemuan dengan Presiden China, Xi Jinping.

Korea Utara sendiri belakangan ini semakin giat melakukan uji coba rudal. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan serangan presisi serta menantang pengaruh AS dan Korea Selatan di kawasan. Beberapa analis bahkan menduga bahwa Pyongyang tengah menguji senjata mereka sebelum berencana mengekspor teknologi senjata ke negara lain, termasuk Rusia.

Baca Juga: Daniel Craig Bicara Tentang Kebebasan Berakting James Bond

Rencana Besar Pyongyang: Kongres Partai dan Modernisasi Industri Militer

Korea Utara di perkirakan akan mengadakan kongres penting partai penguasa mereka dalam waktu dekat. Ini akan menjadi kongres pertama dalam lima tahun terakhir. Topik utama yang akan di bahas meliputi kebijakan ekonomi serta perencanaan pertahanan dan militer.

Menjelang kongres tersebut, Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, memerintahkan “perluasan” dan modernisasi produksi rudal di negara tersebut. Kim juga memerintahkan pembangunan lebih banyak pabrik untuk memenuhi permintaan rudal yang semakin meningkat.

Pada Minggu, media pemerintah melaporkan bahwa Kim Jong Un mengunjungi fasilitas produksi senjata berpemandu taktis. Dalam kunjungannya, ia memerintahkan agar kapasitas produksi fasilitas tersebut di perluas hingga 250 persen. Hal ini menunjukkan tekad Korea Utara untuk memperkuat kekuatan militer mereka dalam menghadapi ketegangan regional yang semakin memanas.